Bisnis

Pilihan menarik emiten cantik

November 7, 2012  ·  0 Comment


KONTAN mencoba menyajikan pilihan saham berkinerja kinclong yang masih menarik
untuk dimasukkan dalam portofolio investasi. Selain menjanjikan cuan melalui
kenaikan harga, investor juga bisa berharap untung dari dividen. Simak
ulasannya.

Satu per satu emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mengumumkan kinerja
keuangan mereka untuk kuartal III–2012. Sesuai dengan prediksi para pelaku
pasar, meski harus menghadapi ancaman krisis utang Eropa dan perlambatan ekonomi
Amerika Serikat (AS), emiten rata-rata tetap bisa membukukan kinerja keuangan
yang positif.

Rilis kinerja keuangan emiten bahkan sempat mendorong Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) menguat tajam. Pada perdagangan Selasa (30/10) lalu, IHSG
melesat hingga mencapai level 4.364,60, yang merupakan rekor tertinggi IHSG
hingga saat ini.

Analis menilai, pelaku pasar merespon positif rilis kinerja keuangan emiten
selama sembilan bulan pertama tahun ini. Hal ini menjadi bahan bakar bagi
penguatan indeks saham.

Dampaknya tidak bertahan lama

Sayang, bahan bakar ini tidak bertahan lama. Sehari setelah mencetak rekor, IHSG
kembali melemah. Padahal, rata-rata indeks saham di Asia dan Eropa menguat.
“Aksi ambil untung dilakukan pemodal di tengah menguatnya bursa regional
Asia dan Eropa,” cetus Purwoko Sartono, analis Panin Sekuritas.

Menurut Purwoko, hasil kinerja emiten di kuartal III–2012 sudah tecermin pada
pergerakan IHSG menjelang indeks saham kembali mencetak rekor. Dengan demikian,
setelah IHSG mencetak rekor, pelaku pasar kembali mengamati isu-isu ekonomi
global. Salah satu isu yang jadi perhatian pasar adalah kekhawatiran terjadinya
kontraksi pada ekonomi Jerman.

Di kuartal ketiga ini, tidak semua emiten bisa membukukan kinerja positif. Sama
halnya kuartal sebelumnya, rata-rata emiten yang berhasil mencetak kinerja
cemerlang di sembilan bulan pertama tahun ini adalah emiten yang menyasar pangsa
pasar domestik. Misalnya saja, emiten sektor properti, infrastruktur, perbankan,
dan ritel.

Sementara, kinerja emiten yang bergantung pada pasar impor masih tertekan.
Misalnya saja, emiten yang berbisnis batubara.

Lalu, emiten mana yang masih oke buat dikoleksi? Berikut beberapa emiten yang
direkomendasikan analis:

BJBR

Kinerja PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk sepanjang sembilan
bulan pertama 2012 cukup memuaskan. Emiten yang menjajakan saham berkode BJBR di
bursa ini berhasil mencetak pendapatan bunga Rp 5,08 triliun di periode
tersebut. Realisasi pendapatan tersebut naik sekitar 17,95% dari realisasi di
periode yang sama di 2011.

Sementara, laba bersih bank yang ngetop dengan nama Bank Jabar ini naik menjadi
Rp 945,38 miliar. Artinya, laba bersih bank ini naik sekitar 18,96% dari
realisasi laba bersih di kuartal tiga 2011, yakni Rp 794,70 miliar.

Analis menilai, pencapaian ini antara lain merupakan hasil dari ekspansi Bank
Jabar di sektor mikro. Sepanjang kuartal ketiga 2012, bank ini berhasil
mendorong kredit mikro tumbuh 41% menjadi Rp 4,1 triliun. Realisasi ini bahkan
melampaui target penyaluran di 2012 yang dipatok Rp 2,9 triliun.

Porsi kredit mikro Bank Jabar juga sudah mencapai 12,5% dari total kredit yang
disalurkan. Ini jauh lebih besar ketimbang porsi kredit mikro di kuartal tiga
2011 yang hanya 11,15% dari total kredit. Berkat hal ini, di kuartal ketiga
saja, BJBR mampu mencetak laba bersih sebesar Rp 345 miliar.

Analis MNC Securities Martha Christina memperkirakan, kredit mikro BJBR tahun
ini bisa mencapai Rp 6 triliun. Di 2013, penyaluran kredit jenis ini bisa naik
jadi Rp 8,5 triliun.

Menurut analis Trimegah Securities Robby Hafil, derasnya pengucuran kredit Bank
Jabar tak lepas dari peran sekitar 420 Warung BJB, yang menjadi ujung tombak
penyaluran kredit mikro. Tahun depan, Bank Jabar berniat menambah jumlah Warung
BJB hingga lebih dari dua kali lipat jumlah saat ini.

Selain lewat Warung BJB, Bank Jabar mengejar ekspansi kredit mikro melalui
pertumbuhan anorganik, yakni melalui bank perkreditan rakyat. Bank daerah Jabar
dan Banten ini mencoba memaksimalkan kepemilikan saham di BPR yang dianggap
potensial. Misalnya, di BPR Garut, Bank Jabar menambah kepemilikan saham hingga
51%. Sekadar informasi, saat ini Bank Jabar memiliki saham di sekitar 51 BPR
dengan rata-rata kepemilikan 15%.

Tapi, analis menilai, kontribusi dari BPR ini belum menunjukkan hasil yang
signifikan. Robby menganggap, Warung BJB jauh lebih efektif untuk menjangkau
calon debitur potensial. “Usaha mikro butuh banyak cabang untuk menjangkau
debitur. Akuisisi BPR tidak signifikan dibanding membuka warung BJB yang
ongkosnya lebih murah,” jelas dia.

Hanya saja, langkah Bank Jabar bermain di sektor mikro juga memperbesar risiko
kredit macet. Per September lalu, non performing loan (NPL) Bank Jabar naik dari
1,4% di kuartal kedua 2012 jadi 1,7% di kuartal ketiga. Tapi, Martha menganggap
jumlah ini masih wajar dan seimbang dengan bunga kredit mikro yang dipatok cukup
tinggi, yakni antara 25%–27%.

Meski pertumbuhan penyaluran kredit mikro melesat, analis memandang kredit
konsumer masih bakal jadi tulang punggung pemasukan Bank Jabar selama beberapa
tahun ke depan. Sebagai gambaran, saat ini porsi kredit konsumer Bank Jabar
mencapai 67% dari total kredit yang disalurkan.

Maklum, sebagai bank milik pemerintah daerah, Bank Jabar memperoleh hak istimewa
menyalurkan kredit konsumsi kepada PNS di Jabar dan Banten. Martha mencatat,
rata-rata bunga kredit konsumsi Bank Jabar sekitar 18%–20%. “Di sisi
lain kredit bermasalahnya rendah, karena pembayaran gaji PNS juga lewat Bank
Jabar,” ujarnya.

Robby memprediksi, tahun ini total penyaluran kredit Bank Jabar bisa tumbuh
hingga 19,6%. Tahun depan kenaikannya diperkirakan bisa mencapai 20,7%. Dengan
kenaikan tersebut, Robby memprediksi laba bersih Bank Jabar sepanjang 2012 bisa
tumbuh 10,5% dibanding dengan laba bersih di 2011. Di 2013, laba bersih bank
daerah ini bisa meroket 25,8% .

Sedang menurut hitungan Martha, hingga akhir tahun ini Bank Jabar berpotensi
meraup pendapatan Rp 7,1 triliun, dengan laba bersih Rp 1,26 triliun. Bank Jabar
juga masih bisa menjaga level kredit bermasalah atau non performing loan (NPL)
di 1,4%–1,5%, dengan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM)
6,8%–7%.

Para analis merekomendasikan beli saham ini. Martha mematok target harga Rp
1.340 per saham. Sementara Robby memasang target harga 2013 di Rp 1.400 per
saham, yang mencerminkan price to earning ratio (PER) 9,4 kali dan price to book
value(PBV) 2 kali. Pada perdagangan Kamis (1/11), saham BJBR ditutup di Rp
1.110.

ROTI

Selama sembilan bulan pertama 2012, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk sukses
meraih pendapatan Rp 855,94 miliar, naik 52,85% dari Rp 559,97 miliar pada
periode yang sama tahun lalu. Alhasil, laba bersih Nippon pun terdongkrak naik
menjadi Rp 96,68 miliar, dari sebelumnya Rp 71,70 miliar.

Analis AAA Securities Adolf Sutrisno menilai, kinerja emiten berkode ROTI
tersebut bakal terus melaju kencang hingga tahun depan. Kenaikan itu merupakan
hasil dari diversifikasi produk yang dilakukan produsen roti ini.

Nippon memang tergolong rajin mengembangkan varian roti baru. Contohnya, tahun
ini Nippon memperkenalkan roti tawar keju. “Rencana peluncuran produk roti
tawar premium dan snack roti di 2013 juga akan menjadi penopang kinerjanya,”
ujar Adolf.

Dengan memproduksi roti tawar premium, Nippon bakal bersaing dengan peritel yang
juga menjajakan roti tawar premium, seperti Kem Chicks. Menurut Adolf, pasar
roti tawar premium masih besar karena pemainnya sedikit. Peluang Nippon membesar
lantaran produsen roti bermerek Sari Roti ini berniat memasarkan roti tawar
premium dengan harga lebih miring, Rp 17.000 per bungkus. Kini harga pasaran
roti tawar premium sekitar Rp 23.000 per bungkus.

Nippon juga terus meningkatkan kapasitas produksi dengan mendirikan pabrik baru.
Perseroan ini antara lain mendirikan pabrik di Makassar dan Palembang. Selain
untuk menambah produksi, pendirian pabrik di dua kota tersebut dilakukan untuk
memperkuat penetrasi Nippon di dua kota tadi.

Keunggulan lain dari Nippon adalah merek Sari Roti yang sudah kuat di
masyarakat. Analis Danareksa Sekuritas Mardesiana menuturkan, hal ini berkat
strategi emiten ini membuat produk massal yang bisa dinikmati seluruh lapisan
masyarakat. Produsen roti lain pun jadi sulit bersaing dengan Nippon.

Selain itu, Nippon didukung jalur distribusi yang kuat. “Pertumbuhan
industri ritel minimarket beberapa tahun belakangan juga memperkuat jalur
distribusi Sari Roti,” ujarnya.

Di 2013, Mardesiana meya-kini kinerja Nippon masih bisa melesat. Apalagi pasar
roti masih belum jenuh. Mardesiana memprediksi, di 2013 Nippon mampu meraih
pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun dan laba bersih Rp 191 miliar.

Adolf lebih optimistis. Menurut hitungannya, pendapatan Nippon tahun depan bisa
mencapai Rp 1,5 triliun, dengan laba bersih Rp 197 miliar.

Karena itu, Mardesiana dan Adolf sepakat merekomendasikan beli saham ROTI. Adolf
memasang target harga sebesar Rp 6.800 per saham. Hitungan Adolf, harga ini
mencerminkan PER 43 kali, lebih tinggi dibanding PER sektor konsumer yakni 28
kali. “Meski premium tapi masih layak koleksi untuk jangka panjang,”
tandas Adolf. Kamis lalu, saham ROTI masih dibanderol di harga Rp 6.100 per
saham.

SMGR

Perlahan tapi pasti, PT Semen Gresik Tbk mulai bisa mengatasi kendala kapasitas
produksi yang minim. Hal ini terlihat dari peningkatan kinerja hingga kuartal
III–2012 lalu. Di periode tersebut, emiten yang sahamnya diberi kode SMGR ini
mampu mencetak kenaikan pendapatan 17,71% jadi Rp 13,67 triliun. Sementara laba
bersih naik 22,47% jadi Rp 3,41 triliun.

Meski begitu, para analis menilai industri semen masih bakal tetap menghadapi
kendala terbatasnya kapasitas produksi untuk mencukupi kebutuhan. Gifar Indra
Sakti, analis Sucorinvest Central Gani, menuturkan, kapasitas terpasang industri
semen tahun ini cuma 59,5 juta ton. Padahal, pemerintah memasang target produksi
semen nasional 60,56 juta ton.

Gifar menganalisa, di 2013 kapasitas produksi terpasang bisa naik jadi 64,3 juta
ton. Kenaikan ini disokong penambahan produksi dari beberapa pabrik baru,
seperti pabrik milik Holcim dan Semen Bosowa. Tapi, tetap saja, angka kapasitas
produksi tersebut masih di bawah target pemerintah, yakni sebesar 65 juta ton di
2013.

Asal tahu saja, keterbatasan kapasitas produksi ini sempat menekan kinerja Semen
Gresik. Di 2011, pangsa pasar perusahaan pelat merah ini merosot jadi 40%,
lantaran tidak ada tambahan kapasitas produksi.

Tahun ini, Semen Gresik bisa bernapas lega setelah mendapat tambahan pasokan
sebanyak 5 juta ton dari pabrik di Tuban dan Tonasa. Kontribusi kedua pabrik ini
baru akan maksimal di 2013. Tambahan ini akan membuat tingkat utilisasi Semen
Gresik jadi lebih longgar, yaitu di level 82%. Tapi, karena tidak ada penambahan
pabrik baru di 2013, utilitas Semen Gresik tahun depan kembali meningkat jadi
87%.

Produsen semen ini memang berencana kembali mendongkrak volume produksi dengan
membangun pabrik di Padang dan Rembang. Jika tak meleset, pembangunan dua pabrik
ini akan dimulai tahun 2013.

Kedua pabrik ditargetkan rampung pada 2015 atau 2016. Dari dua pabrik tadi,
perseroan ini menargetkan tambahan produksi sebanyak 5 juta ton. Ini termasuk
strategi Semen Gresik untuk mencapai kapasitas produksi 30 juta ton di 2016.

Hingga September lalu, total penjualan Semen Gresik mencapai 16 juta ton.
Menurut Gifar, ini setara dengan 40% pangsa
pasar. “Masih belum mencapai t ingkat ideal di sekitar 43%–44%,” cetus
dia.

Tapi, Gifar memprediksi, Semen Gresik masih berpeluang mendorong pangsa pasar
hingga akhir tahun. “Karena tambahan dari Tonasa dan Tuban itu baru masuk
sekitar Maret dan April 2012 lalu,” ujarnya.

Analis memperkirakan, volume penjualan Semen Gresik tahun ini bisa mencapai
20,66 juta ton, naik dari realisasi 2011 sebesar 19,6 juta ton. Sementara di
2013, penjualannya diprediksi bisa mencapai 21,8 juta ton.

Analis Batavia Prosperindo Sekuritas Parningotan Julio mengestimasikan,
pendapatan Semen Gresik tahun ini bisa mencapai Rp 18,6 triliun, dengan laba
bersih Rp 4,2 triliun. Analis menilai saham SMGR ini masih layak dikoleksi.
Hanya saja, harga saat ini sudah terbilang cukup mahal. Karena itu, investor
yang ingin mengoleksi sebaiknya menunggu harga di pasar turun dulu.

Gifar mematok target harga sebesar Rp 15.650 per saham, setara dengan PER 2013
di 19 kali. Harga SMGR Kamis lalu tercatat Rp 14.900 per saham.

ERAA

PT Erajaya Swasembada Tbk merupakan salah satu emiten yang mencetak kenaikan
kinerja paling dahsyat di kuartal tiga 2012 lalu. Pendapatan perusahaan ritel
ini mencapai Rp 9,65 miliar. Artinya, pendapatan Erajaya di sembilan bulan 2012
lebih tinggi 148,45% ketimbang realisasi di periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih perseroan ini bahkan naik lebih dahsyat. Di sembilan bulan 2011
lalu, laba bersih Erajaya cuma Rp 116,87 miliar. Tahun ini, laba bersihnya
mencapai Rp 329,58 miliar. Artinya ada kenaikan 182%.

Melihat kinerja yang positif, wajar kalau analis menilai saham emiten yang
berkode ERAA ini menarik untuk dikoleksi. Analis J.P. Morgan Securities
Indonesia Stevanus Juanda memasang rekomendasi overweight untuk ERAA. Jadi Anda
bisa memperbanyak porsi saham ini dalam portofolio Anda.

Wajar saham emiten ini mendapat rekomendasi positif. Erajaya termasuk emiten
yang rajin menggelar ekspansi. Awal Oktober lalu, emiten yang mencatatkan
sahamnya di akhir tahun lalu ini mengumumkan telah mengakuisisi 30% saham PT
Inovidea Magna Global. Ini adalah perusahaan pengembang aplikasi seluler.
“Investasi ini akan mendukung strategi ERAA dalam menyediakan value added
services dan konten pada pelanggannya,” tulis analis Mandiri Sekuritas Adrian
Joezer dalam risetnya.

Salah satu aplikasi buatan Inovidea adalah PicMix. Ini adalah aplikasi berbagi
foto, mirip seperti Instagram. Adrian mencatat, aplikasi PicMix ini termasuk
dalam lima besar aplikasi yang paling banyak di-download untuk BlackBerry.
Pengguna
aplikasi ini sudah mencapai 5 juta lebih.

Erajaya menargetkan pengguna PicMix bisa mencapai 10 juta di akhir tahun ini.
Analis optimistis prospek bisnis Erajaya tahun depan masih gemilang. Ada
beberapa faktor yang bakal menjadi sentimen positif bagi peritel gadget ini.
Pertama, Samsung melakukan pemotongan harga produk. Produsen gadget asal Korea
Selatan ini gencar melakukan pemotongan harga produknya di seluruh dunia.

Stevanus mencontohkan, di China Samsung menurunkan harga Galaxy SIII sekitar
16%. Samsung juga memangkas harga sejumlah ponsel pintar yang dipasarkan di
Indonesia. Misalnya Samsung Galaxy Tab 10.1 turun sekitar 11,5%.
“Penurunan harga secara agresif yang dilakukan prinsipal akan membuat
penetrasi ponsel pintar di pasar semakin tinggi, seiring kemampuan masyarakat
membeli meningkat,” papar Stevanus.

Kedua, Erajaya berpeluang kembali memperoleh hak menjadi distributor eksklusif
vendor gadget tertentu di Indonesia. Saat ini, Erajaya telah menjadi distributor
eksklusif untuk BlackBerry. Hak distributor eksklusif ini diperoleh setelah
Erajaya mengakuisisi Teletama Artha Mandiri. Erajaya juga memperoleh hak
eksklusif menjadi distributor untuk BlackBerry Gemini.

Ketiga, Erajaya berpotensi mendapat insentif pajak. Pasalnya, Eralink
International, pemilik mayoritas Erajaya, melepas 241 juta saham miliknya ke
pasar. Jumlah tersebut setara 8,3% dari total saham ERAA. Dengan aksi korporasi
tersebut, porsi saham ERAA yang beredar di pasar mencapai 40,02%.

Nah, sesuai ketentuan perpajakan di Indonesia, emiten yang kepemilikan saham
publiknya 40% ke atas mendapat keringanan pembayaran pajak penghasilan. Lumayan,
pajak yang tadinya sebesar 25%, dipangkas menjadi hanya 20%.

Stevanus menilai, keringanan pajak itu akan meningkatkan laba bersih Erajaya. Ia
memprediksi hingga akhir tahun ini Erajaya bisa mencetak penjualan Rp 12,56
triliun dengan laba bersih Rp 460,2 miliar. Di 2013, penjualan Erajaya bisa
mencapai Rp 15,77 triliun dengan laba bersih Rp 630,4 miliar.

APLN

Sektor properti termasuk salah satu sektor yang pertumbuhannya paling pesat
selama dua tahun terakhir. Salah satu saham properti yang masuk rekomendasi
analis adalah saham PT Agung Podomoro Land Tbk. Emiten ini memang berhasil
membukukan kinerja keuangan yang kinclong.

Selama sembilan bulan 2012, emiten yang mejeng di bursa saham dengan kode APLN
ini berhasil mencetak penjualan sebesar Rp 3,52 triliun, naik 31,6% dari
pendapatan di periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara laba bersih naik
52,10% jadi Rp 682,67 miliar.

Bahkan, bila hanya menghitung laba bersih di kuartal tiga, pertumbuhannya lebih
dahsyat. Selama periode Juli-September 2012, Agung Podomoro berhasil menjaring
laba bersih Rp 245 miliar, naik 120,72% dari laba bersih kuartal tiga 2011 yang
sebesar Rp 111 miliar. “Ini lebih tinggi dari prediksi kami, yakni 104%,
dan konsensus sebesar 97%,” tutur Natalia Sutanto, analis Bahana Securities.

Margin laba bersih perusahaan properti ini juga melesat. Selama sembilan bulan
2012, Agung Podomoro bisa mencetak margin laba bersih sebesar 19,4%. “Ini
jauh di atas proyeksi full year 2012 kami di 15,1%,” imbuh Natalia. Buat
catatan, hingga akhir 2011 lalu margin laba bersih perusahaan ini cuma sebesar
15,2%.

Pertumbuhan dahsyat Agung Podomoro disokong antara lain oleh pendapatan
berulang. Natalia mencatat, recurring income Agung Podomoro dari sejumlah mal
dan hotel di Jakarta, Bandung, dan Balikpapan meningkat tajam.

Peningkatan paling tajam terlihat pada pendapatan bisnis hotel. Pada 2011 lalu,
hingga kuartal tiga pendapatan dari bisnis hotel cuma mencapai Rp 4,98 miliar.
Tahun ini, di periode yang sama, pendapatan hotel perusahaan ini mencapai Rp
147,07 miliar. Alhasil, total pendapatan berulang perusahaan ini naik sekitar
109,63% menjadi Rp 598,91 miliar.

Selain itu, penjualan unit apartemen yang dikembangkan emiten ini juga cukup
pesat. Buat catatan, pendapatan pra penjualan (marketing sales) Agung Podomoro
pada periode Januari–September 2012 sudah mencapai Rp 4,25 triliun. Jadi,
perseroan ini cukup menambah marketing sales sebesar Rp 75 triliun lagi untuk
mencapai target sepanjang 2012.

Analis memprediksi, kinerja cemerlang Agung Podomoro bisa berlanjut hingga tahun
depan. “Salah satu keunggulan Agung Podomoro adalah ekspansi dia banyak,
proyeknya banyak, dan eksekusi proyek bagus,” terang Natalia. Awal Oktober
lalu, Agung Podomoro mengumumkan pihaknya telah mengakuisisi 85% saham PT
Tritunggal Lestari Makmur.

Ini adalah perusahaan properti asal Bandung. Perusahaan ini memiliki lahan
seluas 1,9 hektare (ha) di ibukota provinsi Jawa Barat tersebut. Selain itu,
Tritunggal jugamemperoleh izin pengelolaan dan pengembangan fasilitas meeting,
incentive, conference, exhibition (MICE) selama
30 tahun dari pemerintah daerah. Rencananya, Agung Podomoro akan mengembangkan
proyek hotel dan gedung komersial di lahan tadi.

Sejumlah rencana akuisisi lain juga tengah dipersiapkan emiten properti ini.
Salah satunya, Agung Podomoro berencana mengakuisisi lahan seluas 15 ha di
Pluit, Jakarta. Di lahan tersebut, perusahaan ini berniat membangun properti
serbaguna, terdiri dari apartemen, perumahan, dan ruko.

Natalia menilai ekspansi Agung Podomoro positif untuk kinerja perusahaan ini.
Apalagi, kini semakin banyak orang yang lebih cenderung memilih tinggal di
apartemen dalam kota, ketimbang mencari rumah di pinggir kota.

Berdasarkan pertumbuhan kinerja Agung Podomoro, Natalia merekomendasikan beli
untuk saham APLN. Apalagi, saham ini terhitung masih sangat murah dibandingkan
saham properti lain. Natalia mematok target harga Rp 430 untuk saham APLN ini.
Pada penutupan perdagangan Kamis lalu, APLN dihargai Rp 365 per saham.

Hanya saja, perlu jadi catatan, volume perdagangan saham ini tidak melulu besar.
Ambil contoh, pada 30 Oktober lalu, volume perdagangan saham ini cuma 3 juta
saham. Bandingkan dengan volume perdagangan saham PT Alam Sutera Realty Tbk
(ASRI) di hari tersebut yang mencapai 49,27 juta saham. Karena itu, saham APLN
ini lebih cocok untuk investor jangka panjang.

BBNI

Kinerja PT Bank Negara Indonesia Tbk per September 2012 tidak terlalu
menggembirakan. Pertumbuhan penyaluran kredit bank pelat merah ini terhitung
loyo. Tingkat penyaluran kredit bank ini hanya naik sekitar 14,8% dibanding
setahun silam, jauh lebih kecil ketimbang pertumbuhan penyaluran kredit
perbankan yang mencapai rata-rata 24%.

Penyaluran kredit bank yang ngetop disebut BNI ini rendah lantaran penyaluran
kredit korporasi hanya tumbuh 6,2%. Padahal, kontribusi kredit korporasi pada
total penyaluran kredit BNI di kuartal ketiga 2012 mencapai 35,1%.

Di sisi lain, pada periode yang sama, bank dengan kode saham BBNI ini berhasil
meraup dana pihak ketiga (DPK) Rp 238,9 triliun, atau naik sekitar 16,9%.

Akibatnya, rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) BNI
susut dari 78,3% menjadi 76,8%.
Beruntung, sekitar 64% dari DPK merupakan sumber dana murah. Berkat itu, BNI
bisa menekan biaya dana menjadi 2,8% di kuartal tiga 2012. Menurut catatan
Martha, cost of fund BNI cuma sebesar 2,8%.

Meski begitu, BNI hanya mampu mencetak NIM sebesar 5,8%. Pemicu NIM rendah
adalah penurunan suku bunga kredit. Asal tahu saja, selain kredit korporasi, BNI
juga fokus ke kredit komersial, terutama KPR, yang pendapatan bunganya jauh
lebih rendah ketimbang kredit usaha mikro. “Ini sesuai dengan risiko yang
lebih kecil, selain karena memang permintaan KPR tinggi,” kata Martha.

Tapi, secara total, BNI masih bisa membukukan peningkatan laba bersih yang
lumayan. Laba bersih bank ini naik sekitar 24,46% menjadi Rp 5,04 triliun.
Sementara pendapatan bunga bersih naik sekitar 19,02% menjadi Rp 11,20 triliun.

Para analis memprediksi, hingga akhir tahun nanti BNI hanya bisa mencatatkan
pertumbuhan kredit sekitar 17%–18%. Manajemen BNI sendiri menargetkan
pertumbuhan penyaluran kredit sepanjang tahun ini mencapai 18%–20%.

Hingga akhir tahun nanti, Martha menganalisis NIM BNI akan bertahan di level
5,8%–6%. Dengan demikian, BNI bisa mendorong pendapatan bunga bersih menjadi
Rp 14,9 triliun dan laba bersih Rp 6,7 triliun.

Hanya saja, tahun depan bank-bank yang memiliki komposisi kredit konsumer
signifikan, termasuk BNI, bakal merasakan hambatan dari beleid yang dibuat
otoritas moneter. Robby bilang, keinginan Bank Indonesia menaikkan kualitas
kredit, terutama kredit konsumsi, berpotensi menekan pertumbuhan kredit itu
sendiri.

Contoh beleid yang mengancam pertumbuhan penyaluran kredit BNI, misalnya
Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK)
yang berlaku mulai Januari 2013. Aturan ini membatasi jumlah kepemilikan kartu
kredit serta plafon maksimum kredit nasabah.

BI diperkirakan masih bakal menahan BI rate di level rendah. Dus, perbankan
terus bersaing menawarkan bunga murah demi menggenjot penyaluran kredit.
Ujungnya, pendapatan bunga bank bisa menipis.

Robby memprediksi, jika tahun ini penyaluran kredit bank bisa tumbuh hingga 24%,
tahun depan pertumbuhannya paling banter hanya 23%. Proyeksi ini juga sudah
memperhitungkan faktor kompetisi antarbank yang kian ketat. Untuk BNI sendiri,
ia mengitung pertumbuhan kredit bank ini bisa mencapai 19% tahun depan.

Meski banyak menghadapi tantangan, analis tetap mematok rekomendasi beli untuk
BBNI. Robby memasang target harga BBNI di 2013 sebesar Rp 4.800 per saham.
Target harga ini mencerminkan PER sebesar 12,4 kali dan PBV 2,1 kali. Sedang
Martha mematok target harga di Rp 4.400 per saham. Harga BBNI Kamis lalu
mencapai Rp 3.725 per saham.

BEST

Pertumbuhan pesat industri di Indonesia menjadi berkah bagi PT Bekasi Fajar
Industrial Estate Tbk. Hingga September 2012, emiten yang melego sahamnya dengan
kode BEST ini sukses membukukan pendapatan Rp 661,97 miiar, naik 88,50% dari
pendapatan di sembilan bulan 2011. Laba bersih perseroan ini pun melonjak
262,88% menjadi Rp 301,53 miliar, dari Rp 83,09 miliar di tahun lalu.

Natalia memprediksi, kinerja Bekasi Fajar bakal terus melesat di 2013. Ia
menghitung, di 2012 ini emiten pengelola kawasan industri ini bakal meraih
pendapatan Rp 954 miliar dan Rp 1,34 triliun di 2013. Sementara laba bersih
tahun ini bisa mencapai Rp 410 miliar, dan akan naik jadi Rp 732 miliar di 2013
mendatang.

Setidaknya ada tiga faktor yang menopang kinerja Bekasi Fajar tahun depan.
Pertama, jumlah land bank yang besar. Saat ini Bekasi Fajar tercatat sebagai
emiten pengelola kawasan industri yang memiliki land bank terbesar. Hingga
semester satu lalu, Bekasi Fajar memiliki lahan cadangan seluas 777 ha yang
berlokasi di Cikarang Barat, Bekasi.

Kedua, lokasi tanah Bekasi Fajar pun lebih memikat dibanding kawasan industri
lainnya. Natalia menghitung, jarak Cikarang paling dekat dengan central business
district (CBD) di Jakarta, yakni sekitar 24 km. Selain itu, jarak Cikarang ke
Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Sukarno-Hatta pun lebih dekat ketimbang
kawasan industri lain, yakni masing-masing sekitar 35 km dan 55 km.

Ketiga, bisnis kawasan industri Bekasi Fajar juga terbantu kuatnya fundamental
ekonomi Indonesia. Analis memprediksi jumlah perusahaan asing yang membangun
pabrik di Indonesia masih terus bertambah. Daya beli domestik yang kuat membuat
perusahaan asing gencar melakukan penetrasi pasar di Tanah Air.

Natalia memprediksi, investasi langsung asing dan domestik di 2013 bakal naik
19% menjadi US$ 38 miliar. Sedangkan sepanjang 2012, Natalia menghitung,
kenaikan penanaman investasi langsung naik 14% menjadi US$ 32 miliar.
“Permintaan lahan yang tinggi membuat harga jual tanah Bekasi Fajar terus
naik kencang,” ujar dia.

Hingga kuartal III–2012, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP)
lahan Bekasi Fajar mencapai US$ 150 per meter persegi (m2). Padahal, tahun lalu
harganya masih di bawah US$ 100 per m2.

Tahun depan, Natalia memprediksi ASP lahan industri Bekasi Fajar bisa mencapai
US$ 170–US$ 180 per m2. “Bahkan harga jualnya bisa mencapai US$ 200 per
m2 karena lokasi dan kualitas lahan Bekasi Fajar terbilang baik,” imbuh
Triwira Tjandra, analis Ciptadana Securities.

Catatan saja, di semester pertama, Bekasi Fajar sukses menjual lahan industri
seharga US$ 170 per meter persegi kepada PT Garuda Metalindo dan PT Krama Yudha
Tiga Berlian Motors. Triwira menambahkan, kemampuan Bekasi Fajar mengakuisisi
land bank bakal memperkuat kinerjanya. Di akhir 2012, Triwira memperkirakan land
bank Bekasi Fajar bakal mencapai 796 ha.

Triwira meramal, pendapatan Bekasi Fajar di 2013 bakal mencapai Rp 1,4 triliun,
naik 61% dari estimasi pendapatan akhir 2012 sebesar Rp 874 miliar. Sedang laba
bersih emiten ini diprediksi bakal naik dua kali lipat menjadi Rp 812 miliar
dari Rp 399 miliar di 2012.

Triwira merekomendasikan beli saham BEST dengan target harga Rp 740 per saham.
Kamis lalu, harga saham BEST ada di level Rp 680 per saham.

ACES

Kinerja PT Aces Hardware Tbk di sembilan bulan pertama 2012 juga tidak
mengecewakan. Pendapatan peritel ini naik sekitar 34,62% menjadi Rp 2,28
triliun. Sementara, laba bersih perusahaan ini naik sekitar 46,36% jadi Rp
258,73 miliar.

Kenaikan kinerja ini disokong oleh peningkatan pertumbuhan penjualan di satu
toko atawa same-store sales growth yang naik 13%. Selain itu, penambahan jumlah
gerai juga menjadi faktor positif bagi perusahaan anggota grup Kawan Lama ini.

Hingga September 2012, Ace Hardware sudah membuka 17 gerai baru di 7 kota.
“Ini lebih banyak dari rencana awal mereka, yakni 10–15 gerai baru,”
kata Anindya Saraswati, analis Danareksa Sekuritas.

Nanda, panggilan akrab Anindya, memprediksi Ace Hardware bakal tetap bisa
mempertahankan kinerja yang positif di 2013 nanti. Strategi yang digunakan
perseroan ini masih sama seperti tahun ini. “Mereka masih tetap akan
menambah gerai baru sekitar 10–15 gerai lagi,” cetus dia.

Nanda menghitung, hingga akhir tahun ini Ace Hardware berpotensi mencetak
pendapatan sebesar Rp 3,27 triliun dengan laba bersih Rp 364 miliar. Sementara
tahun depan, pendapatan Ace Hardware berpotensi melesat menjadi Rp 4,13 triliun
dengan laba bersih 453 miliar.

Rencananya seluruh ekspansi tadi akan dibiayai dengan dana kas internal. Nanda
meyakini perusahaan ini tidak akan kesulitan membiayai rencana ekspansi tadi.
Menurutnya, Ace Hardware merupakan perusahaan dengan neraca keuangan yang sehat
dan kas yang kuat.

Melihat kinerja emiten ini yang positif, Nanda mempertahankan rekomendasi beli.
Ia mematok target di Rp 7.500 sebelum pemecahan saham (stock split), atau Rp 750
setelah stock split. Target harga ini mencerminkan PER 2013 sebesar 28,4 kali.
Kamis lalu, harga saham ACES sudah mencapai Rp 720 per saham.

Nah, silakan pilih,

***Sumber : KONTAN MINGGUAN 06 – XVII, 2012 Laporan Utama

By


Readers Comments (0)


You must be logged in to post a comment.