|
Pada 2050 Sebagian Besar Wilayah Jakarta Terendam
2008 Nov 29, 01:15: pm SUKOHARJO–MI:Pada 2050 mendatang sebagian besar wilayah Jakarta berpotensi terendam sebagai dampak terus meningkatnya tinggi muka air laut akibat pemanasan global. Hal tersebut dikemukakan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Kehutanan Sosial Departemen Kehutanan Sunaryo dalam paparannya pada seminar lingkungan Climate Change and Global Warming, Bagaimana Menyikapinya? di auditorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (29/11). Sekarang peningkatan tinggi muka air laut telah mencapai 94 milimeter pr tahun. Angka itu akan terus bertambah karena pemanasan global telah memicu mencairnya es di kutub, katanya. Dampaknya, bisa ditebak. Air laut akan melimpah dan merendam daratan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sekarang, kata Sunaryo, dampak itu sudah mulai terlihat. Saat ini saja tidak kurang dari 20 pulau-pulau kecil di Indonesia telah hilang. Kalau trend ini dibiarkan terus tanpa langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan, bukan tidak mungkin pulau-pulau besar pun tidak luput dari = bencana ini. Salah satunya adalah Jakarta, pada 2050 sebagian besar wilayahnya akan terendam air. Karena peningkatan tinggi muka air laut akan mengakibatkan abrasi semakin parah, tambahnya. Itu, ujarnya, baru sebagian saja. Dampak lain dari pemanasan global juga akan menimbulkan bencana kehidupan serius pada manusia, khususnya pada daerah beriklim tropis. Karena meningkatnya efek gas rumah kaca akan memicu terjadinya kekeringan dan curah hujan yang sangat ekstrim. Di Indonesia, gejala tersebut telah terlihat di Nusa Tenggara. Kekeringan parah melanda daerah ini hampir setiap tahun, sehingga membuat masyarakat mu= lai kesulitan memperoleh air bersih. Pada tahun-tahun mendatang, kata Sunaryo, kondisi seperti itu bisa jadi akan terus meluas ke daerah lain. Apalagi jika peningkatan temperatur melebihi angka 1 derajat celcius, sehingga bencana kekeringan parah hingga mengakibatkan gagal panen, punahnya sejumlah spesies, banjir besar, tidak bisa terelakan lagi. Sekarang, peningkatan temperatur setiap tahunnya sudah mencapai 0,6 derajat celcius, tambahnya. Untuk mengantisipasi ancaman bencana tersebut, menurut Sunaryo, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama melalui adaptasi, yaitu menyesuaikan dan mengubah pola pembangunan hingga sesuai dengan lingkungan sekitar. Penjabarannya cukup luas. Untuk sektor pertanian dilakukan dengan mengubah pola tanam dan jenis tanaman. Infrastruktur, dengan menyesuaikan konstruksi dan arsitektur serta memperbaiki sistem drainase. Memperbaiki manajemen risiko bencana dengan memasang sistem peringatan dini, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. Yang tidak kalah penting, ujar Sunaryo, adalah mengantisipasi meningkatnya wabah penyakit. Cara yang kedua adalah mitigasi. Langkah-langkah penanggulangan bisa dilakukan dengan menurunkan emisi gas rumah kaca. Selain itu, memperbanyak penggunaan energi terbarukan, merupakan cara yang cukup efektif adalah dengan melakukan penanaman banyak pohon. Karena selain bermanfaat bagi manusia, pohon merupakan penyerap terbaik gas CO2 sebagai elemen utama pembentuk selubung tipis pemicu utama terjadinya efek gas rumah kaca itu, tandas Sunaryo. Selain Sunaryo, pembicara yang hadir adalah Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta Suparlan, Dosen IAIN Walisongo Semarang Mujiono, dan Wakil Rektor III UMS Absori. Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMS yang sebelumnya direncanakan akan dihadiri oleh Menteri Kehutanan MS Kaban ini, diharapkan bisa menghasilan sejumlah rekomendasi untuk mencari solusi dalam mengatasi dampak merugikan global warming. (FR/OL-01) |
|
