Kredit Motor Berpotensi Ciptakan Krisis Finansial
2008 Nov 29, 04:15: pm

JAKARTA–MI:Kemudahan prosedur dan banyaknya lembaga pembiayaan yang menjamin pendanaan kredit sepeda motor berpotensi menciptakan krisis keuangan di dalam negeri.

Dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh lembaga pembiayaan seiring kompetisi produsen dalam penetrasi dan memperluas pasar, kredit kepemilikan sepeda motor yang sedemikian mudah saat ini berpotensi mencapai puncak kejenuhan, bubbleyang akhirnya bisa memicu krisis finansial domestik, ujar Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Arianto A Patunru, Sabtu (29/11).

Berkaca pada kasus debitur yang tidak kredibel dalam kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat (AS), imbuh Arianto, kondisi ini berpotensi menimbulkan kredit macet dalam skala besar.

Saat ini tanpa agunan ataupun uang panjar, (down payment) semua golongan masyarakat sangat mudah mendapatkan akses kredit ini. Padahal tanpa kredensial yang memadai, sebagian besar konsumen hanya mengandalkan pembayaran dari sisa konsumsi primer, ujar Arianto.

Apalagi saat ini, katanya, dengan adanya ancaman pengurangan hingga pemutusan hubungan kerja di sektor UMKM, konsumen pada level akar rumput ini akan kehilangan penghasilan sekaligus.

Kondisi bubbleini yang berpotensi menjadi default(macet) yang akan menyebabkan perusahaan leasingdan dealermotor akan kolaps. Pada akhirnya pihak perbankan meski tidak akan mau tahu dengan kondisi ini, akan mengalami kesulitan likuiditas.

Jika menilik data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor di Indonesia hingga semester ketiga 2008 masih sangat menjanjikan. Jika dibandingkan dengan jangka waktu yang sama setahun lalu, penjualan motor tumbuh 60% atau sudah melampaui angka penjualan sebanyak 4,060 juta unit.

Bisnis leasingpun merasakan nikmatnya, karena menurut Ketua Umum AISI Gunadi Sindhuwinata, lebih dari 70% pembelian sepeda motor dilakukan secara kredit melalui perbankan maupun lembaga pembiayaan (multifinance).

Pembelian motor melalui kredit mencapai 90%, terbagi ke lembaga pembiayaan yang menguasai sekitar 78% dan perbankan 12%.

Kondisi ini diakui kalangan lembaga pembiayaan kredit sepeda motor. Restrukturisasi pembiayaan multifinanceyang macet di pasar sepeda motor lebih sulit dilakukan karena pola kredit yang berbeda dengan perbankan.

Sejak awal tahun, pembiayaan sepeda motor dari industri multifinancebanyak yang macet. Mungkin disebabkan kenaikan harga BBM dan tingginya inflasi. Pembiayaan sepeda motor ini berbeda dengan kredit bank seperti KPR atau UKM yang dikelola secara banking. Restrukturisasinya pun beda, ujar Eko, seorang konsultan finansial.

Menurutnya, karakter nasabah multifinancepembiayaan sepeda motor lebih banyak masyarakat kalangan bawah. Bahkan tidak jarang multifinancetidak membebankan uang muka sepersenpun. Sehingga timbul pemikiran tidak ingin melunasi utang lantaran mendapatkannya pun tanpa modal. Modalnya saja modal dengkul, kalau mau ditarik ya tarik saja, paparnya.

Ia menambahkan, diperlukan keahlian khusus untuk menangani restrukturisasi pembiayaan macet pada sepeda motor. Saya pernah menangani kredit motor yang macet di salah satu bank, yang nilainya puluhan miliyar rupiah. Waktu itu hasilnya tidak begitu menggembirakan, ujar Eko.

Namun hal ini dibantah Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia yang menyebut tidak bisa dibandingkan antara jenis kredit rumah dengan pembiayaan multifinance.

Antara KPR dengan kredit UKM saja lain. Jadi masing-masing memiliki spesifikasi tersendiri, ujarnya.

Ada tiga pola restrukturisasi yakni diperpanjang, dilunasi, dan sepeda motornya ditarik. Tidak sedikit pembiayaan yang macet di sepeda motor minta diperpanjang masa pembayarannya. Namun, jika dibandingkan antara yang diperpanjang dengan yang ditarik, itu hampir sama persentasenya. Sementara yang dilunasi lebih lebih sedikit, kata Wiwie.

Justru saat ini pembiayaan macet di multifinancesaat ini menurun. Hingga pertengahan 2008 posisi kredit macet berkisar 3,8% dari total pembiayaan sekitar Rp100 triliun. Ia mengakui setelah harga BBM naik pada dua tahun lalu pembiayaan multifinanceyang macet naik dari 1,9% menjadi 2,9%. Keadaan membaik sejak 2007 sampai sekarang. Penurunan ini terjadi karena pembiayaan sepeda motor dan mobil sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi, ujarnya.

Wiwie menambahkan sejumlah produsen sepeda motor memasukkan sepeda motor yang telah ditarik dari nasabah ke dalam divisi khusus. Selanjutnya, sepeda motor itu diperbaiki dan dijual kembali dengan kondisi bekas melalui dealer.(JJ/OL-01)