Sandy dan Kebangkitan Tenis Putri
2008 Jan 31, 11:22: pm

JAKARTA–MI:Keputusan Angelique Widjaja rehat mengayun raket tenis membuat mendung bagi dunia tenis putri Indonesia. Tetapi Sandy Gumulya hadir untuk membuat rona kebangkitan.

Semenjak 2006 mendung bergayut di dunia tenis putri Indonesia. Mendung itu mengiringi pilihan mantan petenis top Indonesia Angelique Widjaja untuk rehat sementara dari dunia tenis.

Mendung juga belum terusir ketika Angie gagal berpresatsi di SEA Games 2007 lalu. Publik tenis bertanya-tanya tentang masa depan tenis putri.

Kini angin pengusir mendung tengah berhembus dari Bangkok, Thailand. Angin itu ditiupkan petenis-petenis muda Indonesia yang tengah berlaga di pertandingan kejuaraan tenis beregu puteri Piala Federasi.

Dan Kamis (31/1), angin terasa makin segar ketika Sandy Gumulya mengalahkan petenis Australia yang tengah menanjak, Casey Dellacqua. Kemenangan Sandy melengkapi keberhasilan Ayu Fani Damayanti yang di pertandingan sebelumnya mengalahkan Jessica Moore.

Dua petenis yang masing-masing berusia 21 dan 19 tahun ini, sehari sebelumnya telah mengalahkan tim kuat lainnya, India 2-1. Ini lah tanda kebangkitan tenis putri kita. Petenis-petenis muda sudah bisa diandalkan, ujar Wakil Sekretaris Jenderal PB Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti) Ferry Raturandang di Jakarta.

Ya, sukses dua petenis itu memang pantas disambut suka cita. Namun sebenarnya tanda-tanda itu telah dimunculkan Sandy sejak SEA Games 2007.

Saat itu ia merebut medali emas tunggal putri. Memang pamor keberhasilan itu tampak kalah gaung dari kemenangan kali ini karena petenis nomor satu Thailand, Tamarine Tanasugarn, tidak bertanding.

Sementara itu dalam pertandingan kali ini, lawan Sandy tengah naik daun. Dellacqua mengalahkan mantan petenis nomor satu Amelie Mauresmo (Prancis) di babak tiga Grand SlamAustralia Terbuka, pekan lalu. Sebaliknya, Sandy hanya sampai ke babak pertama kualifikasi.

Dellacqua lalu menjadi petenis nomor satu Australia dengan peringkat 57 dunia. Lewat surat elektronik yang disampaikan PB Pelti, Sandy mengungkapkan kunci keberhasilannya.

Saya tidak mau mengingat prestasi dia (Dellacqua) bagaimana, saya hanya fokus pada pertandingan. Saya tidak mau kalah, hanya itu yang saya ingat, kata petenis berperingkat 239 dunia itu.

Jika mengenal sosok Sandy, semangat pantang menyerah merupakan karakter khasnya. Sandy berhasil bangkit dari cedera lutut parah pada 2005.

Anak pasangan Rudi Gumulya yang mantan atlet balap sepeda dan Siantiningsih, yang mantan atlet loncat indah itu harus meniti kembali peringkatnya setelah terlempar ke 9999 dunia karena absen selama 2005. Pada 2007 salah satu prestasinya ialah mencapai babak semifinal turnamen Boston di Amerika hingga naik ke peringkat 299 dunia.

Kini Sandy telah mencapai tahap lain kebangkitan. Lebih dari itu ia menyulut lagi harapan publik tenis.

PB Pelti pun telah bertekad untuk makin mendukung penampilan petenis-petenis junior. Dengan keberhasilan tim muda ini berarti kita harus lebih banyak mendukung penampilan mereka, ujar Ferry. (Big/OL-03)