|
DPR Anggap Target Lifting Minyak Pemerintah tidak Realistis
2008 Jan 31, 11:22: pm JAKARTA–MI:Rencana pemerintah mengubah target liftingminyak dalam APBN Perubahan 2008 dari 1.034 barel per hari (bph) menjadi 910.000 bph dinilai Komisi VII DPR tidak realistis. Target itu dipatok terlampau rendah. Salah satu anggota dewan yang keberatan dengan rencana pemerintah itu adalah Wakil Ketua Panitia Anggaran Suharso Mafoarso. Menurutnya, angka liftingyang ideal adalah 950.000 bph. Padahal, liftingitu sudah ikut memasukkan produksi Chevron 50.000 bph juga. Kalau targetnya begini para produsen minyak tidak perlu kerja keras, ujar Suharso seusai Rapat Kerja dengan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Gedung DPR-MPR, Jakarta, Kamis (31/1). Ia juga mengatakan, perubahan liftingtersebut nantinya akan berimbas pada berkurangnya angka penerimaan pajak. Kalau 1,034 juta bph, perkiraan penerimaan pajaknya sekitar Rp84 miliar, sebaliknya kalau 910.000, angkanya akan jauh lebih rendah lagi, tandasnya. Anggota dewan lainnya Tjatur Sapto Edy punya pandangan serupa. Kalau begini, produksinya sama saja dengan tahun lalu. Tidak ada perubahan. Pemerintah hanya bermain angka ICP (Indonesia Crude Price) saja, biar kesannya penerimaan besar, kata Tjatur. Sebagai usaha pengamanan terhadap defisit APBN 2008, Menkeu Sri Mulyani tidak hanya merubah target lifting. Asumsi harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price) yang dipatok juga naik dari US$60 per barel menjadi US$80 per barel. Asumsi migas lain yang berubah adalah penambahan volume BBM bersubsidi dari 35,8 juta kiloliter menjadi 39 juta KL. Penambahan volume BBM bersubsidi ini pun dinilai Suharso sangat tidak masuk akal. Kenaikannya besar, 10% yang atas dasar asumsi Pertamina sendiri. Ini sama saja artinya memberi ruang kepada Pertamina untuk nambah kuota, tegas Suharso. Menanggapi berbagai selentingan miring mengenai rencana perubahan berbagai asumsi migas ini, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengaku pihaknya sudah bersikap hati-hati dan bijaksana. Pertimbangannya pendapatan. Kalau sekarang, meski diturunkan asumsi lifting-nya, harganya naik, kontribusi sebenarnya masih lebih besar. Jadi, kami masih beri kontribusi ke APBN, jelas Purnomo. Ia pun mengelak ketika dikatakan dengan target liftingminyak yang sebesar itu pemerintah tidak perlu bekerja keras menggenjot produksi. Masalahnya bukan itu, tapi perkembangannya juga berubah. Toh kita juga adjusmentuntuk APBN karena butuh stabilitasi pangan, tegasnya. Di sisi lain, pemerintah juga memperkirakan akan terjadi kenaikan subsidi dalam APBN Perubahan 2008. Untuk BBM saja subsidi naik menjadi sekitar Rp116,8 triliun dari Rp45,8 triliun. Sedangkan subsidi listrik naik dari Rp29,8 triliun menjadi Rp54,2 trliun. (Eva/OL-03) |
|
