|
Bocah Penderita AIDS di Tulungagung Dilarang Sekolah
2007 Dec 02, 04:16: pm TULUNGAGUNG–MEDIA:Seorang bocah penderita HIV/AIDS berusia tujuh tahun di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, tak diperbolehkan bersekolah oleh warga. Juru bicara Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tulungagung, Desi Rusiana Wardani, Minggu mengaku prihatin dengan sikap masyarakat yang tidak memberikan kesempatan kepada Bg untuk mengenyam pendidikan layaknya anak-anak seusianya. Sungguh kami merasa kasihan dengan Bg, padahal kami sudah berkali-kali memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar, katanya penuh penyesalan. Sejauh ini pihaknya telah memberikan solusi kepada Bg dengan mengirimkan beberapa orang dari KPA dan aktifis serta lembaga yang memiliki kepedulian terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk memberikan materi pelajaran. Meskipun tidak setiap hari, tapi kami secara rutin mendatangi rumah Bg untuk memberikan materi pelajaran setara dengan siswa kelas III sekolah dasar, katanya menjelaskan. Bg sendiri sampai saat ini tinggal bersama neneknya di Ngunut, Kabupaten Tulungagung setelah kedua orang tuanya meninggal dunia akibat positif terkena HIV/AIDS. Bg dinyatakan positif terkena HIV/AIDS setelah dirawat di RSUD dr Iskak Tulungagung pada 2005 lalu. Awalnya Bg disangka terkena penyakit busung lapar. Sementara itu Koordinator Kasih Plus, Yulianto, mengecam tindakan masyarakat Kabupaten Tulungagung terhadap Bg yang dianggapnya sebagai bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Dia tidak ada bedanya dengan masyarakat lain. Dia memiliki hak, keuntungan, dan kesempatan yang sama dengan orang lain dan penderita penyakit serius lainnya, kata pria berusia 30 tahun yang memimpin komunitas ODHA dengan anggota tersebar di Kediri, Tulungagung, Blitar, Jombang, dan Madiun itu. Kendati sebagian masyarakat memahami bahwa HIV/AIDS tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga, berpegangan tangan atau berpelukan, berhubungan seksual dengan menggunakan kondom, berbagi makanan atau menggunakan peralatan makan bersama, menggunakan toilet bersama, dan terpapar batuk atau bersin. Tapi stigma di masyarakat, bahwa berkumpul dengan ODHA sangat riskan memang tidak bisa dihilangkan. Inilah mungkin tantangan bagi kami dan pemerintah untuk mensosialisasikan hal itu kepada masyarakat, kata Yulianto menambahkan. Sedang Humas RSUD dr Iskak Tulungagung, Triwidyono Agus Basuki mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih terus memberikan obat-obatan jenis Anti Retro Viral (ARV) kepada Bg. Setiap dua belas jam sekali obat-obatan ARV ini harus diminum dan kami selalu mengirimkannya, kata Triwidyono menjelaskan. Kabupaten Tulungagung merupakan peringkat keempat penyumbang kasus HIV/AIDS di Jawa Timur. Dalam dua tahun terakhir, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung mencapai 74 kasus yang didominasi eks TKI/TKW, sebanyak 19 diantaranya meninggal dunia. (Ant/OL-03) |
|
